GATRAMEDIA.com — Stephanus Slamet Budi Raharjo, atau lebih dikenal dengan SS Budi Raharjo, bukan sekadar wartawan yang menghabiskan waktunya di ruang redaksi.
Ayah dua anak ini menekuni penulisan biografi, membangun media, mengembangkan jurnalisme digital, hingga memasuki wilayah komunikasi publik dan mitigasi risiko.
Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Stephanus Slamet Budi Raharjo. Ia tidak hanya menjadikan jurnalistik sebagai profesi, tetapi juga sebagai ruang untuk mengenali manusia, memahami kekuasaan, dan merekam perubahan zaman.
Di kalangan wartawan dan pengelola media, namanya lebih dikenal sebagai SS Budi Raharjo. Sebagian kolega memanggilnya Budi Jojo atau cukup Jojo.
Lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 7 September 1968, perjalanan profesionalnya memperlihatkan persilangan antara dunia pers konvensional, industri media, teknologi digital, dan komunikasi strategis.
Pendidikan formalnya ditempuh di Universitas Krisnadwipayana (UNKRIS), tempat ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi pada 1994. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di STIE Bisnis Indonesia.
Namun, sekolah jurnalistik sesungguhnya bagi Budi berlangsung di ruang redaksi.
Ditempa Tradisi Jurnalistik Tempo
Budi Raharjo mengawali perjalanan profesionalnya dalam lingkungan jurnalistik Grup Majalah Tempo. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk cara pandangnya terhadap pekerjaan wartawan.
Ia kemudian berkarier di Majalah MATRA, sebuah majalah yang dikenal dengan pendekatan penulisan profil tokoh, human interest, dan pengungkapan sisi lain kehidupan figur publik.
Di MATRA, Budi tidak hanya menjalani pekerjaan sebagai reporter. Ia berkembang menjadi bagian dari manajemen redaksi, hingga dipercaya menduduki posisi Pemimpin Redaksi.
Tradisi penulisan profil yang dikembangkan MATRA memberi ruang baginya untuk mengolah cerita lebih dalam. Tokoh tidak semata-mata ditampilkan melalui jabatan dan prestasi, tetapi juga melalui perjalanan hidup, pilihan, konflik, dan pengalaman personal.
Dari sinilah salah satu karakter jurnalistiknya berkembang: menggabungkan informasi, wawancara, observasi, dan narasi.
Ia juga pernah mengembangkan Matranews.id sebagai bagian dari transformasi media cetak menuju platform digital.
Dari Majalah MATRA ke EKSEKUTIF
Perjalanan Budi tidak berhenti di dunia majalah profil.
Ia dipercaya mengembangkan Majalah EKSEKUTIF, media bisnis yang telah hadir sejak 1979. Dalam perjalanan tersebut, ia menjalankan peran sebagai CEO dan terlibat dalam pengembangan ekosistem media konvergensi.
Pengalamannya di EKSEKUTIF mempertemukannya dengan dunia korporasi, ekonomi, kepemimpinan, dan perkembangan bisnis nasional.
Persilangan antara MATRA dan EKSEKUTIF membentuk dua wilayah pengalaman jurnalistik yang berbeda. MATRA memberinya ruang untuk menggali manusia dan biografi, sedangkan EKSEKUTIF memperluas perspektifnya terhadap dunia usaha dan kepemimpinan.
Dalam perkembangannya, Budi juga terlibat dalam pengelolaan sejumlah media digital, antara lain HarianKAMI.com, Tiras.id, dan BeritaSenator.com.
Baginya, transformasi media bukan sekadar memindahkan berita dari kertas ke layar. Perubahan itu menyangkut cara memproduksi informasi, membangun audiens, menjaga kredibilitas, dan mempertahankan keberlanjutan bisnis pers.
Menulis Biografi: Membaca Manusia di Balik Jabatan
Salah satu bidang yang cukup menonjol dalam perjalanan Budi adalah penulisan profil dan biografi tokoh.
Ia terlibat dalam penulisan sejumlah buku biografi, antara lain Soeyono: Bukan Puntung Rokok, yang mengangkat sosok Letjen TNI (Purn.) Soeyono, serta biografi Laksamana TNI (Purn.) Ade Supandi, mantan Kepala Staf Angkatan Laut periode 2014–2018.
Ia juga terlibat dalam penyusunan buku Sisi Lain: Tjahjo Kumolo, yang mengangkat sisi personal dan perjalanan seorang tokoh pemerintahan.
Selain buku, ratusan profil tokoh pernah menjadi bagian dari pekerjaannya di Majalah MATRA dan media lainnya.
Menulis biografi bukan pekerjaan yang selesai dengan mengumpulkan data dan menyusun kronologi. Ada proses panjang untuk menemukan karakter, memahami konteks, menguji informasi, dan membangun cerita yang memiliki kedalaman.
Dalam pendekatan ini, jabatan bukanlah satu-satunya ukuran penting seseorang. Pengalaman, keputusan, kegagalan, relasi, dan pergulatan hidup justru sering menjadi bagian paling menarik dari sebuah biografi.
Beasiswa Investigasi dan Tradisi Mengungkap Fakta
Budi juga tercatat sebagai penerima beasiswa peliputan investigasi dari Ford Foundation, ISAI, dan LP3Y.
Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada tradisi jurnalisme investigasi yang menuntut ketelitian, keberanian, disiplin verifikasi, serta kemampuan membaca dokumen dan relasi kepentingan.
Dalam perjalanan jurnalistiknya, ia pernah terlibat dalam sejumlah penulisan dan proyek penerbitan yang berkaitan dengan isu politik, sosial, dan persoalan publik.
Pengalaman investigasi tersebut menjadi salah satu bekal dalam memahami bahwa informasi tidak selalu tersedia di permukaan. Wartawan perlu mencari konteks, menguji keterangan, dan menghubungkan fakta yang terpisah.
Bagi seorang jurnalis, kemampuan menulis memang penting. Namun, kemampuan memastikan kebenaran informasi jauh lebih mendasar.
Dari Wartawan Menjadi Coach Menulis
Ada sisi lain yang membuat perjalanan Budi menarik: dunia pelatihan penulisan.
Ia mengembangkan materi pelatihan bertajuk “Bagaimana Menulis Itu Gampang”. Program ini menyasar pejabat fungsional, aparatur pemerintah, serta kalangan profesional di BUMN dan korporasi.
Ia juga pernah menjadi mentor dalam kegiatan menulis kreatif yang melibatkan Kedutaan Besar Belanda dan memberikan pelatihan penulisan features kepada kalangan profesional, termasuk staf Telkom.
Pendekatan pelatihannya bertolak dari gagasan sederhana: setiap orang sebenarnya memiliki cerita, tetapi tidak semua orang mampu menyusunnya menjadi tulisan yang menarik dan mudah dipahami.
Menulis, menurut pendekatan yang dikembangkannya, bukan semata-mata persoalan bakat. Ada teknik menggali ide, menentukan sudut pandang, menyusun struktur, membangun paragraf, dan mengolah bahasa.
Pengalaman panjang di ruang redaksi menjadi modal untuk menerjemahkan teknik jurnalistik ke dalam kebutuhan komunikasi birokrasi dan korporasi.
Membangun Media Digital dan Organisasi Pers
Ketika industri pers memasuki era digital, Budi ikut mengambil bagian dalam pengembangan organisasi media daring.
Ia pernah memimpin Forum Pimpinan Media Digital Indonesia dan menjabat Ketua Umum Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI).
Organisasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan para pemilik dan pengelola media digital untuk membicarakan profesionalisme, keberlanjutan usaha, serta posisi media daring dalam ekosistem pers nasional.
Dalam sejumlah publikasi, ia disebut sebagai salah satu penggerak terbentuknya komunitas pimpinan media digital yang kemudian berkembang menjadi jaringan organisasi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perhatiannya tidak hanya tertuju pada produksi berita. Ia juga memikirkan infrastruktur industri pers: bagaimana media tumbuh, bagaimana pengelolaannya dilakukan, dan bagaimana kredibilitas dipertahankan di tengah persaingan informasi.
Pada Desember 2025, Budi diberitakan mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum AMDI per 8 Desember 2025. Keputusan itu menandai perubahan fase dalam perjalanan profesional dan organisasinya.
Persinggungan dengan Keamanan Siber
Di luar dunia jurnalistik, Budi juga memiliki perhatian terhadap keamanan siber.
Ia terlibat dalam komunitas dan jejaring diskusi keamanan siber, termasuk Indonesia Cyber Security Forum, serta dikenal sebagai penggagas Densus Digital berdasarkan profil profesional yang dipublikasikan.
Persinggungan ini menarik karena dunia jurnalistik dan keamanan siber memiliki satu persoalan yang sama: informasi.
Di satu sisi, media membutuhkan akses informasi yang cepat dan terbuka. Di sisi lain, masyarakat, lembaga, dan negara membutuhkan perlindungan terhadap penyalahgunaan data, serangan digital, manipulasi informasi, dan ancaman terhadap infrastruktur komunikasi.
Pengalaman di dunia pers membuatnya memahami pentingnya kebebasan memperoleh informasi. Sementara perhatian terhadap keamanan siber memperluas perspektifnya mengenai perlindungan informasi dan risiko teknologi.
Ia juga pernah terlibat dalam kegiatan edukasi dan komunikasi bersama BNN DKI Jakarta. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan pendekatan komunikasi publik dalam isu pencegahan narkotika.
Memasuki Wilayah Komunikasi Pemerintah
Babak lain dalam perjalanan Budi adalah keterlibatannya di bidang komunikasi pemerintahan.
Pada 2026, namanya dikaitkan dengan penugasan di Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), khususnya dalam lingkungan deputi yang menangani komunikasi pemerintah. Urusan mitigasi risiko (mitris).
Perpindahan dari dunia media menuju lingkungan komunikasi pemerintah menghadirkan ruang kerja yang berbeda. Ia menjadi mualaf birokrasi, dimana ia banyak belajar di dunia birokrasi.
Jika jurnalisme bertugas menyampaikan fakta, mengawasi kekuasaan, dan menjalankan fungsi kontrol sosial, komunikasi pemerintah memiliki tanggung jawab menjelaskan kebijakan, menyampaikan program, dan membangun pemahaman publik.
Keduanya memiliki kepentingan yang berbeda, tetapi sama-sama berhadapan dengan persoalan kepercayaan masyarakat.
Di wilayah komunikasi publik, pengalaman jurnalistik dapat menjadi bekal untuk memahami bagaimana sebuah pesan diterima masyarakat, bagaimana isu berkembang, serta mengapa kebijakan yang dirancang dengan baik sekalipun dapat menimbulkan kesalahpahaman apabila tidak dijelaskan secara tepat.
Pengalaman dalam mitigasi risiko komunikasi juga relevan ketika pemerintah menghadapi kontroversi, krisis reputasi, maupun persoalan yang membutuhkan respons cepat dan terukur.
Tentu, komunikasi pemerintahan tetap membutuhkan prinsip akuntabilitas, keterbukaan, dan penghormatan terhadap fungsi pers yang independen.
Tiga Dekade, Satu Benang Merah
Jika perjalanan Stephanus Slamet Budi Raharjo ditarik dalam satu garis, terdapat tiga wilayah yang saling terhubung: jurnalistik, teknologi informasi, dan komunikasi strategis.
Dari MATRA, ia belajar menggali manusia dan menulis kisah. Dari EKSEKUTIF, ia berhadapan dengan dunia bisnis dan kepemimpinan. Dari organisasi media digital, ia memahami perubahan industri pers. Dari keamanan siber, ia memasuki persoalan perlindungan informasi. Sementara pengalaman komunikasi publik membawanya pada tantangan menjembatani kebijakan dengan pemahaman masyarakat.
Perjalanan tersebut juga memperlihatkan perubahan peran seorang jurnalis senior di tengah transformasi industri informasi.
Budi Jojo bukan hanya berbicara tentang bagaimana berita ditulis. Ia juga berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar: bagaimana informasi diproduksi, siapa yang mengelolanya, bagaimana kebenarannya diuji, dan bagaimana kepercayaan publik dipertahankan.
Pada akhirnya, tiga dekade lebih perjalanan profesional itu menyisakan satu benang merah: menulis dan mengelola informasi bukan sekadar pekerjaan menyampaikan kata-kata.
Di dalamnya ada tanggung jawab terhadap fakta, manusia, dan masyarakat.
Stephanus Slamet Budi Raharjo adalah gambaran seorang pekerja media yang terus bergerak mengikuti perubahan zaman—dari mesin cetak, ruang redaksi, layar digital, hingga ruang komunikasi kebijakan publik.







