Budi Raharjo: Ketika Kartu Pos Belum Kalah oleh Tombol Send

Budi Raharjo: Ketika Kartu Pos Belum Kalah oleh Tombol Send

GATRAMEDIA.comKetika Kartu Pos Belum Kalah oleh Tombol “Send”

Ada masa ketika kabar tidak datang dalam hitungan detik. Ia menempuh perjalanan berhari-hari di dalam tas seorang tukang pos.

Kartu pos pernah menjadi bagian dari cara kita menyapa, mengabarkan perjalanan, bahkan mengatakan rindu. Kini tugas itu berpindah ke e-mail, WhatsApp, dan media sosial. Pertanyaannya: Anda masih sempat mengalami zaman kartu pos?

Pernahkah Anda berdiri di depan rak kartu pos di sebuah toko buku atau tempat wisata, memilih gambar yang paling bagus, lalu membaliknya untuk menulis beberapa kalimat?

Ruangnya tidak banyak.

Karena itu, orang harus tahu apa yang benar-benar ingin disampaikan.

“Salam dari Bali. Di sini panas, tapi menyenangkan. Oleh-olehnya menyusul.”

Atau kalimat yang lebih personal: “Apa kabar? Semoga kartu ini sampai sebelum saya pulang.”

Sesudah itu alamat ditulis dengan hati-hati. Perangko ditempel. Kartu dimasukkan ke kotak pos. Lalu dimulailah sesuatu yang semakin asing bagi generasi hari ini: menunggu.

Tidak ada centang satu. Tidak ada centang dua. Tidak ada notifikasi “delivered”. Kita bahkan tidak selalu tahu apakah kartu itu sudah sampai.

Anehnya, justru di situlah romantikanya.

Dari Kotak Pos ke Inbox

Kartu pos pernah menjadi teknologi komunikasi yang sederhana sekaligus populer. Orang mengirim kabar perjalanan, ucapan selamat, salam Lebaran, Natal dan Tahun Baru, atau sekadar mengatakan, “Saya ingat kamu.”

Kartu pos juga menjadi semacam suvenir yang berjalan. Pada satu sisinya terdapat foto kota, pantai, hotel, gunung, gedung bersejarah, atau tempat wisata. Di sisi lain terdapat tulisan tangan pengirim.

Maka sebuah kartu pos membawa dua hal sekaligus: tempat dan perasaan.

Kemudian dunia bergerak cepat.

Surat elektronik atau e-mail membuat pesan tak perlu lagi menempuh perjalanan fisik. Cukup mengetik alamat, menulis beberapa kalimat, kemudian menekan tombol send.

Hari berubah menjadi detik.

Setelah itu muncul SMS, BlackBerry Messenger, WhatsApp, Telegram, Instagram, dan berbagai platform lain. Foto perjalanan yang dulu hanya muat satu gambar di kartu pos kini bisa dikirim puluhan bahkan ratusan sekaligus.

Komunikasi menjadi jauh lebih cepat, murah, dan praktis.

Tetapi ada sesuatu yang ikut menghilang: benda yang bisa disimpan.

Tulisan Tangan yang Menjadi Kenangan

E-mail berusia 20 tahun mungkin masih tersimpan di server. Pesan WhatsApp bisa dicadangkan. Foto tersimpan di cloud.

Tetapi pengalaman memegang kartu pos berbeda.

Ada tulisan tangan seseorang di sana. Ada bentuk hurufnya. Ada coretan ketika salah menulis. Ada tinta yang mulai pudar. Ada perangko. Ada cap kantor pos dengan nama kota dan tanggal pengiriman.

Semua ketidaksempurnaan itu justru membuatnya personal.

Bayangkan menemukan kartu pos yang dikirim seorang sahabat 30 tahun lalu. Orangnya mungkin sudah berubah. Kotanya berubah. Kita sendiri juga sudah berubah.

Tetapi tulisannya tetap berada di sana.

Teknologi digital menyimpan data dengan sangat baik. Kartu pos sering kali menyimpan sesuatu yang lebih sulit didefinisikan: jejak manusia.

Generasi Kartu Pos, Generasi E-mail

Karena itu pertanyaan sederhana ini sebenarnya bisa menjadi penanda sebuah generasi:

Anda masih mengalami zaman mengirim kartu pos?

Pernah membeli perangko?

Pernah menuliskan alamat lengkap berikut kode pos?

Pernah memasukkannya sendiri ke kotak pos?

Atau pernah menunggu kartu pos dari sahabat, kekasih, saudara, atau seseorang yang sedang bepergian ke luar kota dan luar negeri?

Jika jawabannya pernah, kita berasal dari generasi yang mengalami sebuah jembatan besar dalam sejarah komunikasi: dari menunggu tukang pos hingga menunggu notifikasi ponsel.

Dulu kita bertanya, “Surat saya sudah sampai belum?”

Sekarang kita bertanya, “Kok sudah dibaca, belum dibalas?”

Teknologinya berubah. Kegelisahannya rupanya tidak banyak berubah.

Dan mungkin kartu pos tidak benar-benar mati. Ia hanya kehilangan tugas utamanya sebagai alat komunikasi. Hari ini ia dapat kembali sebagai benda nostalgia, karya visual, cendera mata, atau cara yang sengaja dipilih untuk mengirim pesan secara lebih personal.

Sebab ketika semua orang dapat mengirim pesan dalam satu detik, menerima selembar kartu yang dipilih, ditulis, ditempeli perangko, lalu dikirim khusus kepada kita justru terasa istimewa.

Dari kartu pos ke e-mail, dari kotak surat ke inbox, dari perangko ke tombol “send”. Teknologi boleh berubah. Tetapi alasan manusia mengirim pesan sejak dulu tetap sama: ingin mengatakan kepada seseorang—di tempat yang jauh maupun dekat—“Saya masih mengingat Anda.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *