GATRAMEDIA.com — Jojo, Wartawan Investigasi yang Menggerakkan Media Digital Indonesia
Stephanus Slamet Budi Rahardjo tak pernah berniat menjadi selebritas di dunia pers. Tetapi nama kecilnya, Jojo, justru lebih akrab di kalangan jurnalis ketimbang banyak pemimpin media yang tampil di panggung-panggung seminar.
Ia dikenal sebagai figur yang memilih bekerja dalam diam—kecuali ketika bicara soal integritas pers atau kepentingan publik. Saat itulah suaranya terdengar tegas, tajam, dan tak berkompromi.
Dari ruang redaksi hingga laboratorium pelatihan media digital, Jojo adalah satu dari sedikit jurnalis senior yang bersikukuh bahwa masa depan pers bukan hanya online, tetapi online yang bermoral.
Jejak Investigasi dan Disiplin Tempo
Jojo memulai kariernya sebagai jurnalis di masa ketika majalah masih menjadi panglima pembentuk opini.
Ia merupakan alumnus manajemen Majalah Tempo—sebuah “sekolah keras” yang membesarkan banyak jurnalis dengan karakter kritis dan etos kerja presisi.
Dari sana ia memahami bahwa media tidak hanya diterbitkan untuk sekadar dibaca, tetapi untuk mengawasi kekuasaan.
Pendidikan formalnya pun mendukung disiplin itu. Ia meraih gelar S2 dari Sekolah Tinggi Bisnis Indonesia (STIEBI). Kombinasi antara manajemen bisnis dan idealisme jurnalistik menjadikannya sosok yang unik: paham etika jurnalisme, tetapi juga cakap menjalankan roda bisnis media.
Jojo kerap mempertegas bahwa bisnis media tak boleh membunuh idealisme kontennya.
Prinsip itu ia buktikan dalam sejumlah liputan investigasi yang ia kerjakan setelah mengantongi beasiswa investigasi dari Ford Foundation, LP3Y, dan ISAI. Di lingkaran jurnalisme, reputasinya dikenal sebagai reporter yang “tak bisa disuap oleh janji maupun ancaman.”
Pemimpin Digital yang Tidak Menjual Etika
Dalam dunia media, banyak pemimpin mengurus rating, tetapi melupakan kredibilitas. Jojo memilih jalan berlawanan. Ia kini memimpin beberapa media nasional:
CEO Majalah EKSEKUTIF, Pemimpin Redaksi Majalah MATRA, Pemimpin Umum HarianKAMI.com dan Ketua Forum Pimpinan Media Digital Indonesia
Alih-alih mengejar clickbait, Jojo mendorong jurnalis untuk membangun berita berbasis data, riset pasar, serta analisis sosial.
Ia juga membentuk Jojo Media Coach, sebuah usaha pengembangan konvergensi media yang melatih profesional redaksi dan praktisi komunikasi memasuki lanskap digital tanpa kehilangan idealisme.
“Inovasi teknologi boleh cepat, tapi integritas tidak boleh goyah,” begitu kalimat yang kerap ia ulang dalam setiap sesi pelatihan.
Pengabdian Melawan Narkoba dan Ekspansi Televisi Digital
Selain di media, Jojo telah bertahun-tahun terlibat sebagai aktivis anti narkoba sejak masa Bakolak Inpres 71.
Ia bahkan pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Badan Narkotika Nasional—posisi yang mempertemukannya dengan data dan jaringan kejahatan narkotika, yang membuat sikap kritisnya semakin solid.
Di tengah derasnya digitalisasi, Jojo tak hanya hadir di ranah portal berita. Ia mengembangkan TV Magazine, format program televisi informatif yang tayang di berbagai stasiun lokal hingga platform satelit. Program ini memperluas gagasannya: bahwa media harus mengedukasi, bukan hanya menghibur.
Penggerak Era Baru Jurnalisme Indonesia
Di usia ketika sebagian jurnalis senior memilih pensiun atau sekadar menjadi pengamat media, Jojo memilih tetap berada di garis depan.
Ia menulis, melakukan investigasi, memimpin media, melatih generasi baru, dan memperjuangkan etika jurnalistik di tengah industri yang semakin pragmatis.
Di dunia digital yang serba cepat, di mana hoaks dan sensasi berseliweran, kehadiran sosok seperti Jojo mengingatkan kembali pondasi dasar jurnalisme: pers ada untuk publik, bukan untuk kekuasaan.
Kini, ketika media digital tumbuh bak jamur di musim hujan, tidak semuanya memiliki akar. Nama Jojo berdiri sebagai penggerak yang mengingatkan bahwa teknologi hanya alat, dan jurnalisme tetaplah profesi penjaga demokrasi.
Sebagian wartawan mengejar popularitas.
Jojo memilih reputasi.
Dan sejarah media digital Indonesia mencatatnya dengan tinta. Ia aktif di Densus Digital.









